Rabu, 17 April 2013

Sudut Diam, Waktu Alir, Uji Sifat Alir, dan Emulsifikasi



SUDUT DIAM

Sudut diam adalah sudut yang dibentuk oleh tumpukan serbuk terhadap bidang datar setelah serbuk tersebut mengalir secara bebas melalui suatu celah sempit. Alat yang biasa digunakan adalah corong. Semakin kecil sudut diam maka semakin mudah serbuk tersebut mengalir. Sudut diam dapat diukur dengan mengamati tinggi kerucut yang terbentuk (h cm) di atas alas dengan diameter tertentu (d cm). Besar sudut diam dapat dihitung sebagai berikut :
            tan α = h/D (jari-jari kerucut)
Keterangan:       α = sudut diam
                        h = tinggi kerucut tumpukan serbuk
                        D = diameter tumpukan serbuk
Umumnya granul dikatakan mengalir baik (free flowing) apabila sudut diamnya labih kecil dari 50o. Jika sudut diam lebih besar dari 50o, pada saat pentabletan akan detemui kesulitan.
Metode Sudut diam (pengukuran sudut diam)
  • Timbang bahan 100 gram, masukkan secara perlahan-lahan lewat lubang bagian atas, sementara bagian bawah ditutup.
  • Buka penutupnya dan biarkan bahan keluar.
  • Ukur tinggi dan diameter kerucut yang terbentuk.
  • Hitung sudut diam bahan yang dievaluasi.
  • Ulangi percobaan sebanyak 3 kali, hitung berapa puratanya.
WAKTU ALIR
a.       Metode corong
Mengukur kecepatan aliran 100g granul menggunakan corong kaca dengan dimensi sesuai.Metode corong dapat dilakukan dengan 2 cara :
    • cara bebas
    • cara tidak bebas (paksa) digetarkan 
Biasanya jika 100 g granul mengalir dalam 10 detik maka aliran baik. 

b.      Metode sudut diam
·         Masukkan 100 g granul (tutup bagian bawah corong)
·         Tampung granul di atas kertas grafik 
·         Hitung x. Jika x = 5-20    sangat mudah
                             30-40   mudah mengalir
                             40-45   mengalir
                             ³ 45     kurang mengalir
UJI  SIFAT ALIR
A.    Metode langsung
o   Timbang 100 gram bahan.Tuangkan secara perlahan-lahan kedalamcorong pengukur yang tertutup bagian bawahnya lewat tepi corong.
o   Buka penutup corong secara pelan-pelan, biarkan bahan mengalir keluar.Catat berapa lama waktu yang diperlukan (detik) agar semua bahan keluar lewat corong dengan menggunakan alat pencatat waktu( stopwatch).
o   Hitung kecepatan alirnya (gram/detik)
o   Ulangi percobaan sebanyak 3 kal, hitung harga puratanya
B.     Metode Sudut Diam (pengukuran sudut diam)

  • Timbang bahan 100 gram, masukkan secara perlahan-lahan lewat lubang bagian atas, sementara bagian bawah ditutup. 
  • Buka penutupnya dan biarkan bahan keluar.
  • Ukur tinggi dan diameter kerucut yang terbentuk.
  • Hitung sudut diam bahan yang dievaluasi.
  • Ulangi percobaan sebanyak 3 kali, hitung berapa puratanya

SYARAT TERJADINYA EMULSI :
Syarat terjadinya emulsi adalah kedua zat cair tersebut tidak saling melarutkan, yaitu:

1.      Ada dua zat yang tidak saling melarutkan.
2.      Ada Agitasi (pengadukan).
3.      Ada Emulsifying Agent
Faktor yang perlu diperhatikan dalam proses emulsifikasi:
  • Polidispersi globul sferis à tergantung dari pengadukan fasa terdispersi
  • Enersi antar muka 2 cairan yang tidak bercampur menyebabkan ketidak stabilan sehingga usaha enersi antar muka minimum.
  • Stabilator pada anatar muka
  • Bahan peningkat viskositas à dapat mengurangi kecepatan penggabungan globul terdispersi
  • Dibentuk 2 fase stabilisasi dengan fase ketiga adalah emulgator atau multi emulsi (o/w/o; w/o/w)

Stabilitas Susupensi


A.Pengertian

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.

Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu :
  • Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral.
  • Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan pada kulit.
  • Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata.
  • Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
  • Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal.
  • Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.
B.Stabilitas Suspensi 
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :

1.Ukuran Partikel

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya.

2.Kekentalan / Viskositas

Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum ” STOKES”
V= d2 (p-p0) g/ n

Ket :
  • V = Kecepatan Aliran
  • d = Diameter Dari Partikel
  • p = Berat Jenis Dari Partikel
  • p0 = Berat Jenis Cairan
  • g = Gravitasi
  • ŋ = Viskositas Cairan

3.Jumlah Partikel / Konsentrasi

Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut.

Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.

4.Sifat / Muatan Partikel

Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi.

Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).

Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :

1. Bahan pensuspensi dari alam.

Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, dan proses fermentasi bakteri.

a. Termasuk golongan gom :

Contonya : Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin

b. Golongan bukan gom :

Contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum.

2. bahan pensuspensi sintesis

a. Derivat Selulosa

Contohnya : Metil selulosa, karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa.

b.Golongan organk polimer

Contohnya : Carbaphol 934.


C. Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi

1. Metode pembuatan suspensi :

Suspensi dapat dibuat dengan cara :
  • Metode Dispersi
  • Metode Precipitasi
2. Sistem pembentukan suspensi :

  • Sistem flokulasi
  • Sistem deflokulasi
Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :

a. Deflokulasi

  • Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
  • Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing patikel mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal.
  • Sediaan terbentuk lambat.
  • Diakhir sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi lagi.
b.Flokulasi

  • Partikel merupakan agregat yang basa
  • Sedimentasi terjadi begitu cepat
  • Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula.

D.Formulasi suspensi

Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :
  • Pada penggunaan ”Structured Vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi Structured Vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain.
  • Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.
Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah :

1. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium.

2. Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer.

3. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir.

4. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah Structured Vehicle.

5. Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam Structured Vehicle.

E.Penilaian Stabilitas Suspensi

1. Volume sedimentasi

Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.
F= Vu/Vo

2. Derajat flokulasi.

Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).
Derajat flokulasi= Vu/ Voc

3.Metode reologi

Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan.

4.Perubahan ukuran partikel

Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.


Pustaka:

Soetopo. Seno, dkk. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta

Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta

Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. UI Press : Jakarta.

Pengaruh Penggunaan Alat Terhadap Stabilitas Emulsi



Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi adalah suatu sistem heterogen yang tidak stabil secara termodinamika, yang terdiri dari paling sedikit dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah satunya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan–tetesan kecil yang berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok.


Emulsi berasal dari kata emulgeo yang ertinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam bij tersebut. Pada pertengahan abad XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragakan dan kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan.

Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Adapun tujuan pemakaian emulsi adalah dipergunakan sebagai obat dalam atau per oal. Umumnya emulsi tipe O/W serta dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O tergantung banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikendaki.

Komponen dari emulsi dapat digolngkan menjadi dua bagian, yaitu komponen dasar dan tambahan. Komponen dasar yang biasanya digunkan dalam membentuk emulsi, antara lain :

a.    Fase dispers / fase internal / fase diskontinyu, yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain.

b.    Fase kontinyu / fase eksternal / fase luar, yaitu zat cair dalam emulsi berfungsi sebagai pendukung dalam formulasi.

c.    Emulgator, bagian dari emulsi yang bertugas untuk menstabilkan sediaan.

Komponen tambahan adalah bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik, misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservatif (pengawet), antoksidan. Preservatif yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol, dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetat, dan lain-lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, asam sitrat, asam galat, tokoferol, dan propil galat.


Emulgator 
Emulgator berdasarkan asalnya dibedakan atas emulgator alam dan buatan.
Emulgator alam, didapatkan dari alam tanpa proses yang rumit. Dibagi atas tiga golongan :

1.    Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan, bahan-bahan karbohidrat, bahan-bahan alami seperti akasia (gom), tragakan, agar, kondrus dan pectin. Bahan-bahan ini membentuk koloid hidrofilik bila ditambahkan kedalam air dan umumnya menghasilkan emulsi O/W. Misalnya : gom arab, sangat baik untuk emulgator tipe O/W dan untuk obat minum, tragakan, agar-agar, chondrus, emulgator lain seperti pectin, metal selulosa dan CMC 1-2%.

2.    Emulgator alam dari hewan, zat-zat protein seperti : gelatin, kuning telur, kasein, dan adeps lanae. Bahan-bahan ini menghasilkan emulsi tipe O/W. Kerugian gelatin sebagai suatu zat pengemulsi adalah sediaan menjadi lebih cair pada pendiaman.

3.    Emulgator alam dari tanah mineral, zat padat yang terbagi halus, seperti : tanah liat koloid termasuk bentonit, magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. Umumnya membentuk emulsi tipe W/O bila bahan padat ditambahkan ke fase air jika jumlah volume air lebih besar dari minyak. Jika serbuk bahan padat ditambahkan dalam minyak dan volume fase minyak lebih banyak dari air, suatu zat seperti bentonit sanggup membentuk suatu emulsi O/W. Selain itu juga terdapat veegum (magnesium aluminium silikat). Emulgator buatan yaitu emulgator yang dibuat dengan cara sintetik ataupun semi sintetik. Misalnya tween dan span.

Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori, yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teoi tersebut ialah :

1.    Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension), molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut dengan daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan. Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan tegangan bidang batas. Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa-senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organik tetentu antara lain sabun. Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan dan menghilangkan tegangan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur.

2.    Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge), setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok hidrofilik (bagian dari emulgator yang suka pada air dan lipofilik (bagian yang suka pada minyak).

3.    Teori Interparsial Film, teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain fase dispers menjadi stabil. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai adalah dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak, jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers, dan dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera.

4.    Teori Electric Double Layer (lapisan listrik ganda), jika minyak terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan bermuatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan menggandakan penggabungan menjadi satu molekul besar. Karena susunan listrik yang menyelubungisesama partikel akan tolak menolak dan stabilitas emulsi akan bertambah. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari cara berikut yaitu terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel, terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya atau terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya.

Pengaruh alat terhadap stabilitas emulsi, berdasarkan teorinya dari ketiga alat yang digunakan bahwa blender merupakan alat yang menciptakan kestabilan emulsi yang paling baik, dan diurutan kedua yaitu homogenizer dan yang menciptakan stabilitas yang paling buruk adalah mixer.

Pencampuran adalah reorientasi relatif dari suatu bagian ke bagian lain secara random sehingga diperoleh campuran yang homogen. Dalam proses ini terjadi pembasaha partikel oleh fase cair, disperse partikel secara individual atau terjadi deaglomerasi ke dalam fase kontinyu/medium. Pemanasan dan pendinginan secara tidak langsung dapat digunakan untuk membantu proses pencampuran dan untuk stabilisasi.


Blender 
Blender dilengkapi dengan pengadukan pisau, melalui pengadukan dengan kecepatan tinggi akan memberikan energi kinetik yang dapat menggerakkan cairan dalam wadah sehingga dapat mendispersikan fase dispersi ke dalam medium dispersinya. Selain itu blender juga dapat menghomogenkan campuran dan memperkecil ukuran partikel. Dengan adanya pengadukan mengakibatkan terjadinya tumbukan antar partikel dispers. Bila tumbukan terjadi terus-menerus maka terjadi transfer massa sehingga ukuran partikel menjadi semakin kecil. Ukuran partikel yang kecil biasanya sukar homogen karena gaya kohesivitasnya tinggi sehingga cendrung memisah. Namun kelemahan alat ini adalah muah terbentuk buih/ busa yang dapat menggangu pengamatan selanjutnya. Penggunaan emulgator hidrokarbon akan membuat makromolekul dari hidrokarbon terpotong-potong sehingga dapat mempengaruhi kestabilan emulsi yang terbentuk.


Homogenizer 
Paling efektif dalam memperkecil ukuran fase dispers kemudian meningkatkan luas permukaan fase minyak dan akhirnya meningkatkan viskositas emulsi sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya ”creaming”. Homogenizer bekerja dengan cara menekan cairan dimana cairan tersebut dipaksa melalui suatu celah yang sangat sempit lalu dibenturkan ke suatu dinding atau ditumbuhkan pada peniti-peniti metal yang ada di dalam celah tersebut. Homogenizer umunya terdiri dari pompa yang menaikkan tekanan dispersi pada kisaran 500 sampai 5000 psi, dan suatu lubang yang dilalui cairan dan mengenai katup penghomogenan yang terdapat pada tempat katup dengan suatu spiral yang kuat. Ketika tekanan meningkat, spiral ditekan dan sebagian dispersi tersebut bebas di antara katup dan tempat ( dudukan ) katup. Pada titik ini, energi yang tersimpan dalam cairan sebagian tekanan dilepaskan secara spontan sehingga produk menghasilkan turbulensi yang kuat dan shear hidroulik.Cara kerja homogenizer ini cukup efektif sehingga bisa didapatkan diameter partikel rata-rata kurang dari 1 mikron tetapi homogenizer dapat menaikkan temperatur emulsi sehingga dibutuhkan pendinginan.

Mixer 
Memiliki sifat menghomogenkan sekaligus memperkecil ukuran partikel tapi efek menghomogenkan lebih dominan. Mixer biasanya digunakan untuk membuat emulsi tipe batch. Terdapat berbagai macam mikser yang dapat digunakan dalam pembuatan sediaan semi padat. Dalam hal ini sangat penting untuk merancang dan memilih mikser sesuai dengan jenis produk yang diproduksi atau sedang dicampur. Sebagai contoh : salah satu aspek desain mikser yang penting adalah seberapa baik/tahan dinding internal dari mikser. Hal ini karena terdapat beberapa permasalahan dengan baja tahan karat dari mikser sebab mata pisau pengikis harus fleksibel cukup untuk memindahkan/mengaduk bagian dalam dinding mikser. Atau dengan kata lain, mata pisau atau pengaduk harus mampu mengaduk atau memindahkan bahan yang melekat pada dinding mikser tanpa merusak dinding mikser. Jika proses pengadukan tidak berjalan dengan baik (masih banyak bahan yang menempel/tersisa pada dinding mikser), maka hasil pencampurannya tidak akan homogeny.Oleh karena mixer mempunyai aksi planetary mixing maka kemampuannya untuk mencampur fase air, fase minyak dan emulgator sangat tergantung pada macam pengaduk yang digunakan. Selain spesifikasi untuk tiap alatnya, harus diperhatikan pula agar tidak terlalu banyak udara yang ikut terdispersi ke dalam cairan karena akan membentuk buih atau bisa yang menggangu saat melakukan pembacaan volume sedimentasi.

Pada kasus lain, mikser memiliki zona mati (dead spots) sehingga proses pencampuran tidak baik, akibatnya campuran tidak homogeny. Dalam hal ini, perlu upaya untuk menghilangkan zona mati misal dengan desain ulang terhadap pengaduk. Idealnya, semua permasalahan yang mungkin terjadi dalam pencampuran telah diantisipasi serta kondisi dan system operasinya telah divalidasi.

Peralatan yang dibutuhkan untuk pembuatan sediaan semi padat untuk skala kecil (laboratorium) maupun untuk skala besar (industri) pada prinsipnya sama. Perbedaannya hanya pada kapasitas alatnya, pada skala laboratorium kapasitas peralatannya lebih kecil. Dalam praktek yang lebih sederhana, pembuatan sediaan semipadat dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang umum terdapat di laboratorium seperti beaker glass, mortir, steamper, spatula, sumber panas, penangas air, cawan porselin, dan hand homogenizers. Dalam skala yang lebih besar, dapat menggunakan stirrers, agitators, heating kettles, homogenizers, electric mortar and pestle dan colloid mills.

Secara umum, peralatan yang umumnya dibutuhkan dalam produksi sediaan semipadat dapat dibagi menjad 3 macam :

1.    Peralatan untuk memperkecil ukuran partikel

2.    Peralatan untuk pencampuran

3.    Peralatan untuk pengemasan

Peralatan untuk memperkecil ukuran partikel. Pengecilan ukuran partikel dibutuhkan untuk meningkatkan kelarutan, meningkatkan homogenitas dan memudahkan dalam pencampuran serta kenyamanan dalam penggunaan. Mekanisme pengecilan ukuran partikel dapat dilakukan dengan cara :

1.  Impact : pengecilan ukuran partikel akibat tenaga tumbukan yang tiba-tiba yang tegak lurus pada permukaan partikel/aglomerat

2.  Attrition : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga parallel pada permukaa partikel.

3. Compression : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga secara perlahan (lebih kecil dibandingkan impact) pada permukaan partikel (pada bagian pusat dari partikel)

4.  Cutting: pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan pembagian/sharing partikel (memotong partikel)
Penggunaan peralatan dalam pencampuran emulsi akan memberikan pengaruh terhadap stabilitasnya. Metode pembuatan emulsi. Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi yaitu :
1.  Metode gom kering, disebut pula metode continental dan metode 4;2;1. Emulsi dibuat dengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah volume air dan ¼ jumlah emulgator. Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian emulgator. Pertama-tama gom didispersikan kedalam minyak, lalu ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan searah hingga terbentuk korpus emulsi. Setelah terbentuk korpus emulsi kemudian sisa air ditambahkan sedikit demi sedikit hingga habis sambil diaduk. Cara pencampuran emulgator yang berbeda nantinya dapat memberikan hasil emulsi yang berlainan. Contohnya emulsi yang dibuat dengan menggunakan emulgator surfaktan, bila surfaktan yang digunakan dilarutakn terlebih dahulu dengan menggunakan air, amka nantinya akan trbentuk mantel air disekitar misel yang terjadi yang dapat mempersulit pemasukan fase minyak ke dalam miselnya.

2.   Metode gom basah, disebut pula sebagai metode Inggris, cocok untuk penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator, dan menggunakan perbandingan 4;2;1 sama seperti metode gom kering. Metode ini dipilih jika emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk, dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dengan cepat.

3.   Metode botol, disebut pula metode Forbes. Metode ini digunakan untuk emulsi dari bahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah. Metode ini merrupakan variasi dari metode gom kering atau metode gom basah. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian diencerkan dengan fase luar. Dalam botol kering, emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak. Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat, suatu volume air yang sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok, setelah emulsi utama terbentuk, dapat diencerkan dengan air sampai volume yang tepat.

Beberapa alat yang biasa digunakan dalam pembuatan emulsi, antara lain:
1.      Mortir dan stamper

2.      Botol

3.      Mixer, blender

4.      Homogenizer
5.      Colloid mill

Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini :

1.   Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.

2.   Koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya irreversibel (tidak bisa diperbaiki).

Hal ini dapat terjadi karena peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan pH, penambahan CaO / CaCl2; peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan dan pengadukan; inversi yaitu peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya dan sifatnya irreversible.

Viskositas emulsi dipengaruhi oleh perubahan komposisi adanya hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas fase kontinyu; makin besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas nyatanya. Untuk mengatur viskositas emulsi, tiga faktor interaksi yang harus dipertimbangkan oleh pembuat formula, yaitu :

1.   Viskositas emulsi o/w dan w/o dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran partikel fase terdispersi

2.   Kestabilan emulsi ditingkatkan denganpengurangan ukuran partikel, dan

3.   Flokulasi atau penggumpalan, yang cenderung membentuk fase dalam yang dapat meningkatkan efek penstabil, walaupun ia meningkatkan viskositas. Biasanya viskositas emulsi meningkat dengan meningkatnya umur sediaan tersebut.

Referensi

Anief, M., 2000, Farmasetika, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Ansel, HC., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Ed 4, UI Press, Jakarta.

Cooper dan Gunn, 1975, Disperting for Pharmaceutical Student.12th Ed.Pitman Medical, Great Britcin.

Lahman. L, dkk, 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III, UI Press, Jakarta.

Lieberman,H.A, dan Lachmann, L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Ed. UI Press: Jakarta.
Soetopo, S., dkk. 2001, Teori Ilmu Resep, Jakarta.