Tampilkan postingan dengan label Farmasetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmasetika. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Konspirasi "Dokter" Dengan Perusahaan Farmasi


Hasil riset menunjukkan, para dokter cenderung memberi resep obat buatan perusahaan farmasi yang mempromosikan produknya ke dokter bersangkutan. Alhasil, pasien harus membayar lebih biaya obat tersebut dan seringkali tidak memeroleh pengobatan yang tepat .

Fakta tersebut adalah hasil penelitian yang digagas Geoffrey Spurling dari Universitas Queensland, Brisbane, Australia.  Hasil analisis terhadap 58 studi di sejumlah negara itu juga mengungkapkan bahwa informasi dari perusahaan farmasi mempengaruhi para dokter dalam menetapkan resep kepada pasiennya.

"Anda tak bisa mengatakan bahwa informasi dari perusahaan-perusahaan farmasi itu membantu peresepan obat para dokter seperti diklaim perusahaan-perusahaan farmasi itu," kata Spurling.

Klaim para dokter bahwa mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh informasi perusahaan farmasi saat memutuskan resep obat pasiennya juga tidak terbukti daalam hasil studi itu.

"Anda patut mengatakan bahwa setidaknya pada saat tertentu, para dokter itu terpengaruh," ujar Spurling seperti diberitakan Reuters.

Beberapa peneliti yang terlibat dalam riset Spurling ini merupakan anggota "Healthy Skepticism", organisasi riset, pendidikan, bantuan hukum nirlaba internasional yang dibentuk untuk membantu mengurangi bahaya informasi kesehatan yang menyesatkan bagi publik.
Laporan penelitian itu menyebutkan bahwa para dokter yang menerima penjelasan maupun informasi dari perusahaan farmasi lebih mungkin memberi resep obat produksi perusahaan farmasi bersangkutan kepada pasiennya.

Hasil 38 studi yang dilakukan juga menunjukkan adanya kecenderungan keterkaitan langsung antara informasi perusahaan farmasi itu dan peresepan obat.

Namun hasil 13 studi lainnya tidak menunjukkan adanya keterkaitan itu, kata Suprling dan anggota tim riset pimpinannya dalam laporan penelitian yang dipublikasi jurnal "Public Library of Science PLoS Medicine" tersebut. 

Tidak satu pun hasil studi itu mendapati para dokter menjadi kurang sering memberi resep obat karena bahan promosi maupun informasi perusahaan farmasi.

Menanggapi hasil riset yang dilakukan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Denmark, Prancis, Estonia, Turki dan Australia, Dr.Sid Wolfe dari kelompok advokasi, Public Citizen, mengatakan bahwa industri farmasi tidak mengeluarkan dananya berikut staf penjualan obat kalau tingkat keberhasilannya nol.

"Mayoritas dokter mendapatkan informasi tentang obat-obatan dari industri farmasi ini," katanya.

Para staf penjualan obat perusahaan farmasi ini bahkan sering membawakan makan siang ke kantor seorang dokter praktik maupun mengundang mereka ke acara-acara olah raga dan hiburan lainnya saat mereka memberikan penjelasan.

Menurut Spurling, hasil studi di Inggris terhadap lebih dari seribu orang dokter umum mendapati bahwa mereka yang lebih sering bertemu staf pemasaran obat cenderung lebih sering memberi resep-resep obat mahal. Namun, tidak ada jaminan bahwa pasien mendapatikan obat-obatan yang tepat bagi penyakitnya.

Mengutip hasil-hasil studi yang ada, Spurling mengatakan, mutu resep obat yang diberikan para dokter kepada pasiennya itu berada di bawah standar pedoman maupun rekomendasi para ahli.

Sebagai contoh, pedoman resmi di Amerika meminta para dokter menggunakan obat-obatan generik yang terlama dan termurah bagi para penderita tekanan darah tinggi dan diabetes sebelum beralih ke obat-obat paten yang lebih baru dan biasanya masuk kategori resep obat-obat berbahaya.

Temuan empiris ini mendorong para peneliti mengusulkan adanya pengaturan terhadap besaran dana yang boleh dialokasikan industri farmasi untuk kepentingan promosi produk mereka. Pada 2004 saja, perusahaan-perusahaan obat Amerika menghabiskan dana sebesar 57,5 miliar dolar AS untuk kegiatan promosi.

"Kita perlu regulasi yang lebih atas promosi obat. Kita tidak mendapati adanya manfaat apapun," katanya.

Selain itu, para dokter juga perlu mendapat informasi tentang obat dari sumber yang beragam seperti universitas dan organisasi-organisasi kredibel lainnya, katanya.

"Seorang dokter yang lain tentu mengikuti informasi terkini soal obat dari kebiasaan membaca literatur dan jurnal-jurnal ilmiah," kata Wolfe.

Kalau para dokter tak punya waktu memperoleh informasi obat dari kebiasaan membaca melainkan bergantung pada penjelasan staf penjualan perusahaan farmasi, mereka berarti bukanlah dokter yang baik, katanya.

Berkaitan dengan masalah ini, ProPublica, pendukung jurnalisme investigatif, dan sejumlah organisasi lainnya di AS membeberkan fakta bahwa tujuh perusahaan farmasi di negara adidaya itu membayar ribuan dollar AS kepada sedikitnya 17 ribu orang dokter untuk berbicara dengan sejawatnya tentang produk-produk obat perusahaan farmasi yang bermitra dengannya. (Kompas.com)

Senin, 17 Oktober 2011

Farmasetika


Peran Farmasi Industri     
  Farmasis di industri dipekerjakan oleh industry farmasi. Tugasnya mengatur dan mengawasi semua aspek dalam produksi obat dan dispesialisasi menurut bentuk sediaan, seperti tablet, kapsul, obat intravena, obat aerosol, dan sediaan topical.
            Tugas dan tanggung jawab Farmasi di industri, yaitu :
a.      Farmasi di industri bekerja dalam bidang yang bekaitan dengan farmakologi, kimia, mikrobiologi, dan tekhnologi farmasi
b.      Berkonsentrasi pada penemuan obat baru yang aman dan efektif
c.       Bertanggung jawab dalam pengembangan obat baru
d.      Mengatur dan mengawasi produksi obat baru, serta memasarkan produk yang sudah jadi
e.      Berkonsentrasi pada pengubahan bahan aktif menjadi obat yang berguna dengan proses produksi
f.        Pengembangan obat yang sudah ada dan menemukan cara baru untuk memformulasi kembali obat lama
g.      Memformulasi obat (meliputi proses pengubahan bahan dasar obat menjadi produk yang berguna yang dapat diberikan pada pasien secara aman dan efektif )
h.      Melakukan pengecekan pada konsentrasi, tingkat kemurnian, dan stabilitas produk yang dilakukan selama proses produksi, uji klinis, dan ketika produk sudah dipasarkan
i.        Beberapa farmasis menspesialisasikan diri pada produksi mulai dari merancang dan menstandarisasi proses (validasi) yang digunakan untuk proses produksi obat dalam skala besar
j.        Farmasi sebagai QA (Quality Assurance) mengontrol proses dan bahan-bahan mentah yang digunakan untuk pembuatan obat dan mengevaluasi produk akhir. Contohnya, melakukan pengujian shelf life dan stabilitas obat
k.       Dapat juga bekerja pada bagian registrasi. Sebelum obat baru dipasarkan, proses manufacture harus mendapat lisensi dari dinas kesehatan. Di bagian registrasi data yang relevan dikumpulkan untuk diajukan agar mendapat lisensi
l.        Beberapa farmasis yang lain menyediakan informasi mengenai profil perusahaan dan produk competitornya. Mereka menggunakan database online untuk mencari obat dan literature ilmiah. Tugasnya dari hari ke hari mengembangkan pengetahuan yang detail mengenai produk perusahaan. Mereka menggunakan pengetahuan ini untuk mentraining medical representative dan menulis literature teknis.

Kualitas personal dan keterampilan yang harus dimiliki, adalah :
a.      Karena bekerja di laboratorium atau lingkungan produksi yang menggunakan alat-alat otomatis dan spesifik, jadi harus mempunyai daya analitik yang baik dan dapat mengembangkan pemahaman yang bagus mengenai kesehatan dan keamanan di tempat kerja
b.      Di bidang produksi atau pemasaran pengetahuan tentang farmasi dilengkapi dengan kemampuan manajemen, komunikasi, dan kemampuan behubungan dengan pelanggan atau konsumen
c.       Riset dan pengembangan biasanya dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari berbagai ahli, baik farmakologi, toksikologi, kimia organic, farmasetika, dokter, dll sehingga dibutuhkan kemampuan bekerja dalam tim

Farmasetika


DAFTAR NAMA OBAT
NAMA OBAT
NAMA DAGANG
NAMA PABRIK
FUNGSI
DIGOKSIN
Digoksin sandoz
novartis
Penguat otot jantung

fargoxin
Farenheit


lanoxin
Glaxo smith kline


Digoksin
Generic


Dihydergot (DHE)
Nofartis

DMP  ( DextroMethorPhan)
Actifed DM
Glaxo SmithKline
Sebagai Obat Batuk

Alco
In terbat
Merupakan obat antitusif

Anadex
Interbat


Anakonidin
Konimex


Andonex
Meprofarm


Antiza
Coronet


Benacol DTM
Dankos


Benadryl DMP
Pfizer


Benadryl DMP child
Pfizer


Benilin
Medikon


Bronchophen
Sunthi sepuri


Colfin
Nufarindo


Corsagrip
Corsa


Corsamyl
Corsa


Cosyrl
United Amerika


Cowghen Plus
Metiska Farma


Decolsin
Probus


Dekorin
Mecosin


Dexophan
Mecosin


Dextrofen
Phapros


Dextromex
Apex Pharma


Dextrosin
Otto


Dimacol
Berno Farm


Domeryl
Combiphar


Donexan-DX
Meprofarm


Eksedryl plus
Ethica


Ersylan
Kimia Farma


Farapon
Fahrenheit


Fludane
Armoxindo Farma


Fludane Forte
Armoxindo Farma


Fludane Plus
Armoxindo Farma


Fludexin
Dexa Medica


Flumeco
Mecosin


Flutamol
Pyridam


Flutamol-P
Pyridam


Fluvit C
Rocella


Halmezin
Coronet


Ikadryl DMP
Ikapharmindo


Intunal
Meprofarm


Intunal F
Meprofarm


Kalibex
Konimex


Kidiflu
Mecosin


Komix
Bintang Toedjoe


Komix Pack
Bintang Toedjoe


Konidin
Konimex


Kontrabat
Bernofarm


Lacoldin
Lapi


Lapifed DM
Lapi


Lapisiv
Lapi


Lodecon
Solas


Lodecon Forte
Solas


Mersidryl
Mersifarma TM


Mixadin
Dankos


Mixaflu
Dankos


Mucotussan
Medikon


Neladryl DMP
Galenium Pharmacia


Neo Davenol
Sunthi Sepuri


Neo Tusilan
Landson


Oskadryl
Supra Ferbindo


Pilexal
Apex Pharma


Poncodryl DMP
Armoxindo Farma


Poncolin D
Armoxindo Farma


Primadryl Plus
Armoxindo Farma


Promedex
Interbat


Pryidryl
Pyridam


Pryidryl Plus
Pyridam


Quelidrine
Abbott


Rhinodin
Medhicem


Romilar
Roche


Romilar Expetorans
Roche


Sanadry
Sanbe


Sanadryl DMP
Sanbe


Sanaflu
Sanbe


Sanaflu Plus
Sanbe


Scanidin
Tempo Scan Pacific


Siladex
Konimex


Tilomix
Nufarindo


Triamin Batuk
Novartis


Tropidryl Plus
Tropica Mas Pharma


Tuseran
Medichem


Tuseran Forte
Medhicem


Tusilan
Landson


Tussigon
Novell Pharma


Tuzalos
Sanbe


Vick’s Anak-Anak Formula 44
Procter & Gamble


Wood’s Pepermint Antitussive Syrup
Kalbe Farma


Dextromex
Apex Pharma


Dextrosin
Otto


Dexyclav
Dexa Medica


Dexycol
Dexa Medica


Dexymox
Dexa Medica


Diabetasol
Sanghiang Perkasa/kalbe


Diabetone
Fitabiotics


Diabex
Combiphar


Diabex Forte
Combiphar


Diabinese
Pfizer


Diabon
Metiska Farma


Diadium
Lapi


Diafac
Phapros


Di-Gel
Schering Plough


Diagit
Interbat


Dialon
Eisai


Diamicron MR
Servier


Diapet
Lederle


Diamox
Soho


Diasec
Armoxindo Farma

Doksisiklin
Arclate
Meprofarm
Infeksi saluran pernafasan

Dotur
Sandoz
Infeksi saluran kencing

Doxin
Medichem


Dumoxin
Alpharma


Interdoksin
Interbat


Siclidon
Sanbe


Viadoxin
Pyridam


Vibramisin
Pfizer