Senin, 10 Oktober 2011

Iman dan Taqwa

IMAN DAN TAQWA
Disusun Oleh:
Anita Meilina Akhmad (102210101043)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2010
 
Kata Pengantar

Puji syukur dihaturkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia-Nya dan inayah serta hidayah-Nya, tugas mata kuliah agama Islam, untuk menyusun makalah tentang Iman dan taqwa dapat berlangsung sebagaimana yang direncanakan semula dan selesai tanpa adanya hambatan dan kesulitan yang berarti. Makalah ini diharapkan dapat membantu kita semua ataupun mahasiswa untuk mengetahui tentang iman dan taqwa untuk mengadakan pengkajian tentang Iman dan taqwa.
            Terima kasih yang tak terhingga besar dan banyaknya disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya, berupa sumbangsih saran dan kritik dalam perbaikan dan penyempurnakan makalah yang membahas tentang bab Iman dan taqwa ini.
            Namun demikian, kami menyadari bahwa makalah yang sederhana ini masing banyak mengandung kelemahan dan kekurangan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca yang budiman dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan.


Tujuan

Untuk menjadi seorang Islam yang baik, kita seharusnya harus tahu mana yang dianjurkan untuk dilakukan dan mana yang dilarang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al Hadits, agar kita bias tahu mana yang benar dan mana yang salah agar kita tidak salah paham dalam memahami, melakukan dan mengamalkannya yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al Hadits.
           

Dan tujuan kami menyusun makalah tentang Iman dan Taqwa ini agar pembaca yang budiman bisa mengetahui apa itu Iman dan taqwa, makna dan kedudukan Iman, dasar hukum Iman, macam-macam Iman, dan pengertian taqwa, sesuai dengan Al-Qur’an dan Al Hadits.
BAB I
PENDAHULUAN

PENGERTIAN IMAN
Dalam hadist di riwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-Iimaanu ‘aqdun bil qalbi waiqraarun billisaani wa’amalun bil arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup atau gaya hidup.
            Iman merupakan salah satu istilah yang sangat indah dan sangat penting pengertiannya dalam agama. Secara sempurna pengertiannya adalah : membenarkan (mempercayai) Allah YME dan segala apa yang dating dari pada-Nya sebagai wahyu melalui Rasul – Rasul-Nya dengan kalbu, mengikrarkan dengan lisan dan mengerjakan dengan anggota.
            Perhatikan firman Allah berikut :
قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّا‌ۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَـٰنُ فِى قُلُوبِكُمۡ‌ۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَـٰلِكُمۡ شَيۡـًٔا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ (١٤)
            “Orang-orang Arab Badui itu berkata :”Kami telah beriman”. Katakanlah olehmu: “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah islam (tunduk,menyerah), karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan  mengurangi sedikitpun (pahala) amalmu, sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q. Al-Hujarat : 14)
            Adapun iman kepada Allah, mempunyai pengertian khusus sebagai : “membenarkan ada-Nya,Ke-Esaan-Nya dan segala sifat kesempurnaan-Nya; Maha Suci Ia dari segala sifat kekurangan dan dari menyerupai makhluk-Nya”.
            Tentang  ke-Esaan Allah SWT itu, yang sering disebut Tauhid, meliputi tujuh segi, yaitu :
  1. Ke-Esaan  Dzat-Nya: mempercayai dengan yakin, bahwa dzat Allah itu satu, tidak terbagi dan tidak tersusun beberapa bahan atau benda yang berlainan.
  2. KeEsaan Sifat-Nya : mempercayai dengan yakin, bahwa tidak ada satu pun yang menyamai Allah pada sifat-Nya dan bahwa Allah sendiri yang mempunyai sifat kesempurnaan.
  3. Ke-Esaan  Wujud-Nya: mempercayai dengan yakin, bahwa hanya Allah sendiri yang wajib wujud-Nya sedangkan yang selain-Nya hanyalah serba mungkin.
  4. Ke-Esaan  Perbuatan-Nya: mempercayai dengan yakin, bahwa hanya Allah sendiri yang menciptakan alam semesta dan segal isinya, dan yan menghasilkan segala perbuatan makhluk-Nya.
  5. Ke-Esaan  Penerimaan-Nya: mempercayai dengan yakin, bahwa hanya Allah sendiri yang berhak menerima ibadah para hamba-Nya dan yang wajib kita ibadahi; tidak boleh kita mengibadati selain Allah.
  6. Ke-Esaan  Penyelesaian Hajat: mempercayai dengan yakin, bahwa hanya Allah sendiri yang dituju langsung dalam mengemukakan suatu hajat, tidak boleh mengadakan suatu perantara antara kita dengan Allah dalam mengajukan suatu permohonan kepada-Nya.
  7. Ke-Esaan  Penetapan Syariat: mempercayai dengan yakin, bahwa hanya Allah sendiri yang berhak menetukan hokum halal, hokum haram dan pokok-pokok undang-undang.
 BAB II
ISI

Mengenai beriman kepada yang ghaib, berarti mempercayai Allah Yang Maha Esa yang dzat-Nya itu maha ghaib dan mempercayai hal-hal ghaib yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasul-Nya : malaikat, kisah Nabi-Nabi yang terdahulu,hsri kiamat, taman firdaus, api jahanam, dan lain-lain. Yang dinamakan ghaib adalah apa yang ada tetapi daya akal dan daya indera manusia tidak sanggup untuk mengetahui hakekatnya dengan jelas.
            Hanya Allah sendiri yang mengetahui persis segala hal ghaib itu.
قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبۡعَثَ عَلَيۡكُمۡ عَذَابً۬ا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعً۬ا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍ‌ۗ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأَيَـٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ (٦٥)
(Q. An-am :65)
Naluri (fitrah) ketuhanan yang ada dalam diri manusia dapat secara samar-samar merasakan adanya hal ghaib itu, tetapi tidak akan mencapai ilmu yang yakin kecuali jika ada keterangan dari wahyu Ilahi yang dibawa oleh Rasul – Rasul (Nabi-Nabi). Kita harus sangat berhati-hati dengan naluri keghaib-ghaiban yang ada dalam diri kita masing-masing karena alat kita sebenarnya sangat naifuntuk mengetahui hakekat ghaib dengan seksama dan di situ juga ada iblis yang selalu siap untuk menyesatkan kita secara halus berangsur-angsur dan bertahap sehingga tidak terasa.
            Dalam hal ghaib ini cukuplah dengan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya saja ; adapun selebihnya serahkan sajalah kepada Allah.
Kalau kita tidak berhati-hati berpegang kepada wahyu Ilahi maka ada bahaya bahwa kita mejurus kepada animisme dan dinamisme. Akhirnya menyukutukan Allah (syirik). Yang disebut syirik adalah menyerupakan mkhluk dengan kholik pada suatu ketentuan yang tertentu bagi Kalih (Allah) atau berkepercayaan, bahwa yang selain Allah dapat memberi efek lebih dari kadar yang diberikan Allah kepadanya.
Syirik ii bersifat kontradiksi terhadap tauhid sehingga merusak dan mengguurkan nilai-nilai kebajikan yang kita kerjakan.
Firman Allah :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا (١١٦)
Dengan memperhatikan ayat diatas maka syirik merupakan dosa yang terbesar. Kalau kita mengkaji ayat-ayat Al-Quran yang ditunjukkan untuk pembinaan iman dan ayat-ayat seperti itu jumlahnya sangat banyak,maka akan jelas terbukti bahwa Allah menghendaki agar iman itu tidak diperoleh atas dasar naluri dan perasaan saj tapi juga dimantapkan dengan wahyu Ilahi dan kemudian menjadi bertambah kokoh dan berkembang melalui kerja ratio dan tingkah laku (amal)
Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang menghendaki agar setiap muslim memiliki suatu budi ingin tahu dan suatu sikap berfikir kritis, teratur dan tuntas terhadap fenomena-fenomena di alam semesta yang akhirnya akan mengantarkan orangnya kepada iman yang makin kuat melalui pengakuan akan kebesaran Allah dan kesempurnaan hikmah-Nya dalam menciptakan, memelihara dan membimbing alam semesta
Firman Allah
Dapat disimpulakan bahwa iman yang mantap dan sempurna itu didapatkan sebagai produk dari fitrah, wahyu Ilahi, rasa dan ratio serta amal manusia. Faktor-faktor yang lima macam itu harus dilakukan secara optimal dan simultan seberapa sanggup, sebab masing-masingnya itu saling berhubungan, saling overlap, saling memperkuat dan saling memerlukan satu sama lain dalam menghasilkan kesmpurnaan iman.
Kalau iman itu diperoleh hanya dari naluri (fitrah), affinitas (emosi,rasa) saja, sedangkan wahyu Ilahi belum dipelajari serta ratio belum merenungkan sifat-sifat Allah SWT, melalui fenomena-fenomena alam, dan amalnya belum berarti, maka iman seperti itu masih tercampur seperti aman orang jahiliyah dan orang-oarng primitive. Tingkatan terendah seperti ini dapat dipahamkan dari firman:

Tingkatan berikutnya yang lebih tinggi akan dicapai jika di samping naluri dan rasa mulai berperan pula secara positif wahyu ilahi dan ratio, kemudian berusaha sungguh – sungguh memperbanyak amal saleh sambil melawan nafsunya. Dalam tingkatan ini, orang yang beriman mungkin sekali-kali terjatuh berbuat dosa, tetapi ia akan tetap berjihad, bangkit lagi beristigfar mohon ampun dan betaubat. Tingkatan ini dapat dipahamkan dari firman Allah:

Tingkatan iman yang sempuna adalah tingkatan yang dicapai oleh Nabi-Nabi, shiddieq dan syahied serta orang-orang shaleh yang sederajat dengan mereka itu. Pada tingkatan yang tertinggi ini, iman sudah tidak tercampur lagi dengan amal shaleh. Mereka tidak merasa berat dalam beramal shaleh itu, bahkan merekan betul-betul mersakan kenikmatan dan manisnya iman sambil beramal itu. Tingkatan ini dapat dipahamkan dari firman Allah :
Macam-Macam Iman
Iman Kepada Allah swt

Keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa (tauhid) merupakan titik pesat keimanan, karena itu setiap aktivitas seorang muslim senantiasa dipertautkan secara vertikal kepada Allah swt. Pekerjaan seorang muslim yang dilandasi keimanan dan dimulai dengan niat karena Allah akan mempunyai nilai ibadah di sisi Allah. Sebaliknya pekerjaan yang tidak diniatkan karena Allah tidak mempunyai nilai apa-apa.
Islam mengajarkan bahwa iman kepada Allah harus bersih dan murni: menutup setiap celah yang memungkinkan masuknya syirik (mempersekutukan Allah)
Masuknya paham yang merusak tauhid menyebabkan orang terjatuh pada syirik. Syirik merupakan dosa besar yang tidak akan di ampuni Allah.
Tauhid adalah mengiktiadkan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutunya, bagi-Nya. Iktikad ini harus dihayati, baik dalam niat, amal, maupun dalam maksud dan tujuan. Tauhid mencagkup sikap:

  1. Tauhid Zat
Tauhid Zat artinya mengiktiadkan bahwa Zat itu Esa, tidak berbilang. Zat Allah itu hanya dimiliki Oleh Allah saja, yang selain-Nya tidak ada yang memilikinya. Manusia yang terdiri dari atomdan molekul tidak diberi pengetahuan tentang Zat Allah sehingga Rasulullah menasihatkan:
“pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan pikirkan Zat Allah karena engkau akan hancurkan”.  (Hadis riwayat Abu Nuaim dari Ibnu Umar)

  1. Tauhid Sifat
Tauhid Sifat adalah mengiktiadkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyamai sifat Allah, dan hanya Allah saja yang memiliki sifat kesempurnaan. Allah swt. Telah menunjukkan hal ini dalam firman-Nya:
 “Tak ada sesuatupun yang seperti Dia” (Asy-Syuraa, 42:11)
  1. Tauhid Wujud
Tauhid Wujud adalah mengiktiadkan bahwa hanya Allah yang wajib ada. Adanya Allah tidak membutuhkan kepada yang mengadakan.
Berarti hanya Dialah yang abadi. Yang selain Allah di sebut mungkin ada, yaitu adanya yang mengandung sifat tidak ada atau hanya itu berhajat kepada yang mengadakan.

  1. Tauhid Af`al
Tauhid Af`al adalah mengiktiadkan bahwa Allah sendiri yang mencipta dan memelihara alam semesta.
Atas kehendak-Nya pula sesuatu itu hidup dan mati, kemuliaan dan kehinaan, serta kelapangan dan kesempitan rezeki
 ( All Imran,3:26-27);
Allah sendiri yang menetapkan apa yang akan terjadi
 ( At-Taubah, 9:51);
 Dia pula yang memegang rahasia kapan saat kehancuran alam semesta akan tiba  (Luqman, 31:34); maka Allah-lah tempat segala beruntung (Al-ikhlas, 112:2); dan kepada-Nya tempat mengarahkan segala urusan (Al-anfaal, 8:44).
 
  1. Tauhid Ibadah

Tauhid Ibadah adalah mengiktiadkan bahwa hanya Allah saja yang berhak dipuja dan dipuji (Al-Fatihah,1:2). Memuja dan Memuji selain Allah serta sikap ingin dipuji maupun dipuja,baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi (dalam hati) adalah bentuk perbuatan syirik.


  1. Tauhid Qasdi

Tauhid Qasdi adalah mengiktiadkan bahwa hanya kepada Allah-lah segala amal ditunjukkan. Setiap amal dilakukan secara langsung tanpa perantara serta ditunjukkan hanya untuk memperoleh keridaan-Nya semata. Allah berfirman:
“Katakanlah: Sesungguhnya slatku, ibadahku, didupku dan matiku akan kupersembahkan semata-mata hanya kepada Allah Rabbul`alamin.
Kalimat tersebut di ucapkan oleh seorang muslim paling sedikit lima kali sehari semalam di dalam salat. Di luar, amal seorang muslim, apa pun bentuknya, selalu dimulai dengan ucapan basmalah dan di akhiri dengan hamdalah.
Setiap muslimin diwajibkan melatih diri menjaga konsentrasi (kekhusukan) sehinnga pikirannya dipenuhi dengan pengagungan terhadap Allah, perasaannya penuh dengan syukur kepada-Nya. Keindahan alam yang dilihat dihayatinya sebagai keindahan pencipta-Nya, kemerduan suara yang didengarnya adalah kemerduan panggilan-Nya. Usaha tersebut di perkuatkan dengan doa:
“ Ya Allah, hanya engkau yang aku tuju dan keridaan-Mu jua yang aku tuntut. Berilah kepadaku mahabbah dan makrifat kepada-Mu”

  1. Tauhid Tasyri
Tauhid Tasyri adalah mengiktiadakan bahwa hanya Allah-lah pembuat peraturan (hukum) yang paling sempurna bagi makhluk-Nya.
Iman kepada Allah mencangkup iman kepada seluruh firman-Nya. Apabila seorang telah beriman kepada kitab, malaikat, rasul-Nya, hari kiamat, serta qada dan qadar. Dengan demikian, iman kepada Allah menjadi awal dan pintu masuk kepada iman-iman kepada yang lainnya itu. Seorang yang beriman kepada Allah akan senantiasa memelihara keakrabannya kepada Allah. Mulutnya akan senantiasa dihiasi dengan berbagai ucapan yang memelihara ikatannya dengan Allah. Misalnya, mengatakan “insya Allah” untuk ucapan janji, “masya Allah” jika mendapat kegagalan dalam usaha, dan “ inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” jika terkena musibah atau mendengar ada orang meninggal dunia.








Iman Kepada Malaikat-malaikat

Allah menciptakan sejenis makhluk gaib, yaitu malaikat disamping makhluk lainnya. Malaikat diberi tugas-tugas khusus yang ada hubungannya dengan wahyu, rasul, manusia, alam semesta, akhirat, di samping ada malaikat yang diberi tugas untuk melakukan sujud kepada Allah swt. Secara terus menerus. Malikat mempunya sifat yang berbeda dengan makhluk lainnya. Dengan izin Allah, sewaktu-waktu malaikat dapat menjelma ke alam materi, sebagaimana pernah terjadi pada zaman Rasul dahulu.
Kisah tentang malaikat yang menjelma manusia itu bias kita temukan pula dalam surat Al-Hijr, 15:52-55 dan Surat Az-Zaariyaat, 51:24-25. Sebagai makhluk immaterial, malaikat mempunya ciri-ciri diantaranya:
  1. Mereka adalah makhluk yang selalu takut dan patuh kepada Allah.
  2. Mereka adalah makhluk yang tidak pernah berdosa atau bermaksiat.
  3. Mereka adalah makhluk yang tidak pernah sombong dan selalu bertasbih kepada Allah.
Pengetahuan manusia tentang malaikat terbatas pada keterangan yang dungkapkan dalam Alquran dan hadist Rasul. Iman kepada malaikat akan memberikan pengaruh kejiwaan yang cukup besar; seperti kejujuran, ketabahan dan keberanian. Adapun tugas- tugas malaikat, sebagaimana di jelaskan dalam Alquran, adalah sebagai berikut:
1.      Jibril, yang bergelar ruhul qudus atau ruhul amin, bertugas menurunkan wahyu.
2.      Malaikat lain ada yang menurunkan wahyu kepada abdi-abdi Allah yang di kehendaki-Nya.
3.      Malaikat ada yang bertugas meneguhkan hati mukminin atau Rasul.
4.      Malaikat ada yang mendoakan kaum muslimin.
5.      Malaikat ada yang menjadi kawan atau penjaga orang mukmin.
6.      Malaikat ada yang bertugas melaksanakan hukuman Allah bagi manusia.
7.      Ada malaikat yang memohon ampunan bagi manusia.
8.      Ada malaikat yang membaca salawat atas Nabi Muhammad saw
9.      Ada malaikat yang mencatat amal manusia
10.  Malaikat yang bertugas mencabut nyawa.
11.  Malaikat ada yang bertugas memberi salam dan keselamatan kepada ahli surga.

Iman Kepada Kitab-kitab Suci

            Iman kepada kitab-kitab suci dalam Islam merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dengan iman kepada Allah.
Allah menurunkan wahyu kepada para nabi dan rasul, untuk sebagian dari mereka wahyu itu terkumpul dalam kitab-kitab, antara lain Zabur, Taurat, Injil, dan Alquran.
            Semua kitab yang di turunkan Allah kepada nabi dan rasul-Nya memuat ajaran tauhid atau mengesahkan Allah. Sedangkan tata cara penyembahan atau syariat yang terdapat didalamnya berbeda-beda. Setiap muslim wajib beriman kepada Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad yang termuat dalam kitab-kitabnya itu di tunjukkan untuk umat tertentu, misalnya Injil untuk Bani Israil. Tetapi kitab-kitab itutidak lagi mengikat kaumnya ketika Alquran diturunka, karena turunnya Alquran telah menghapus atau merevisi hokum-hukum sebelumnya.
            Kitab-kitab suci yang ada sekarang ini telah mengalami perubahan kecuali Alquran. Perubahan yang sangat penting adalah dalam masalah aqidah, yakni berubah dari tauhidmenjadi syirik. Dalam kerangka itulah kitab suci Alquran untuk merevisi kitab-kitab lama dan menyempurnakan ajaran-Nya.
            Alquran memberikan keterangan yang lengkap tentang pokok-pokok agama dan menjelaskan persoalan-persoalan yang masih kabur atau gelap. Menampung perkembangan pemikiran manusia sampai puncak tertinggi yang bias dicapai oleh manusia.
            Alquran menjawawb setiap tantangan terhadap kebenaran ajarannya yang dating dari siapa saja sepanjang perjalanan kehidupan manusia, sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Pada abad ke-6 sampai akhir zaman.
            Ayat-ayat Alquran dapat dibagi menjadi dua, yaitu ayat-ayat muhkamat (kokoh, rapi, kuat) dan ayat-ayat mutasyabihat (samara, kiasan).
            Jenis pertama meliputi soal-soal hukum. Ia terang dan jelas artinya, todak sulit memahaminya, tidak memerlukan keterangan panjang lebar. Ia merupakan induk, pokok dan isi Alquran yang membentuk sendi Islam. Misalnya ayat-ayat tentang perintah puasa, salat, berjihat, seruan dan larangan, tentang ilmu, berpikir, akal, halal dan haram (syariah)
            Jenis kedua memerlukan keterangan panjang, kupasan mendalam, penelitian membuka berbagai kemungkinan. Tak dapat dijelaskan oleh sembrang orang, melainkan hanya oleh orang-orang yang berilmu, cerdas dan kokoh imannya, dan menguasai ilmu Alquran. Ayat-ayat ini merupakan lapangan tafsir dan kebebasan bepikir. Ia meliputi lapangan kebudayaan, misalnya bahwa manusia hanya dapat melintasi penjurulangit dan bumi dengan kekuasaan (sultan), perumpamaan, peristiwa sejarah, manusia sebagai khalifah Allah, susunan langit dan bumi, Allah itu dekat dan sebagainya.
            Isi Alquran meliputi segala aspek tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan Allah dan dengan semua manusia. Ayat-ayat Makkiyah dan terutama mengandung masalah-masalah hubungan manusia dengan Allah, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah mengandung masalah-masalah hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitarnya. Karena itu biasanya ayat-ayat Makiyyah dimulai dengan seruan yaa ayyuhan nas (wahai sekalian manusia), sedangkan ayat-ayat Madaniyyah biasanya dimulai dengan  yaa ayyuhal lazina amanu (wahai orang-orang yang beriman).
            Alquran terpelihara keasliannya, di samping karena lengkap dan jelas perjalanan sejarahnya.

Iman Kepada Para Rasul

            Rasul adalah manusia pilihan yang menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya dan sekaligus sebagai contoh konkret pribadi manusia yang baik. Rasul-rasul Allah itu ada yang kisahnya di sebutkan dalam Alquran ada pula yang tidak. Rasul yang disebutkan namanya ada 25 orang.
            Rasul Allah tidak hanya menyampaikan wahyu-wahyu Allah, tetapi juga menunjukkan bagaimana cara mempraktekkan wahyu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu diangkat dari salah seorang manusia.
            Perubahan dan perbaikan manusia hanya mungkin dilakukan dan diberi contoh oleh manusia sendiri. Sebab, jika tidak, akan jauh dari realitas kemanusiaan.
Allah swt menyediakan bahan-bahan material untuk merawat jasmani manusia dan menyediakan bahan-bahan rohaniah untuk merawat batin atau jiwa manusia. Bahan-bahan rohani itu membentuk ajaran yang diturunkan Allah sebagai wahyu melalui nabi dan rasul-Nya. Allah swt mengutus nabi dan rasul terdahulu untuk memperbaiki dan membimbing rohani  manusia untuk tempat dan waktu tertentu.
            Karena nabi-nabi dan rasul terdahulu itu hanya untuk tempat dan waktu tertentu saja, maka ajaran yang dibawahnya pun hanya sesuai dan berlaku untuk tempat dan waktu tertentu itu saja. Meskipun hukum-hukum (syariah)nya berbeda-beda akan tetapi aqidah yang dibawahnya sama, yaitu tauhid. Pengutusan nabi dan rasul untuk tiap-tiap umat itu disebutkan dalam Alquran.
            Setelah Para Nabi dan rasul membawa syariah yang berlaku setempat dan temporer, Allah mengutus rasul terakhir yang membaw syariah bagi seluruh manusia di mana pun dan kapan pun mereka berada.
            Rasul terakhir itu ialah Muhammad saw. Yang lahir tahun 53 sebelum Hijriah di Mekah dan wahat tahun 10 H di Madinah.

Iman Kepada Hari Kiamat

            Hukum kesebateraturan dan hukum ketidakkekalan merupakan hukum dasar atau sunatullah yang berlakubagi setiap ciptaan Allah, tanpa kecuali. Didalam Alquran kedua hukum ini ditemukan pada beberapa ayat yang menjelaskan tentang kejadian dan akhir manusia, bumi serta alam semesta. Para sarjana fisika, biologi dan ilmu-ilmu lainnya, telah mengungkapkan sekelumit kebenaran hakikat kedua hukum, itu dalam penemuan-penemuan ilmiah mereka.
            Semua makhluk hidup mengalami kematian. Manusia meninggal dalam berbagai tingkatan usia. Hewan dan tumbuh-tumbuhan secara berangsur-angsur mengalami kepunahan. Mineral-mineral seperti minyak bumi, gas bumi dan mineral lainnya selalu di eksploitasi dan dimanfaatkan manusia sehingga mengalami penyusutan yang pada suatu saat akan habis. Bumi, bulan, dan benda langit lainnya secara tidak disadari oleh manusia ternyatamengalami perubahan sesuai dengan sifat-sifat yang dimilikinya. Hal inii terjadi pulapadaz matahari sebagai sumber cahaya dan energi yang sangat vital bagikehidupan manusia.
            Jika proses perubahan itudipelajari dan diteliti serta direnungkan secara mendalam, maka dapat diambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang ada di alam. Ini, kecuali Zat Yang Mahakuasa, akan mengalami kehancuran.
            Musnahnya kehidupan secara berangsur-angsur, berhentinya alam semesta mengembangkan dan akan berkontraksi kembali ke titik awal kejadiannya merupakan bukti nyata adanya hukum ketidakkekalan yang berlaku bagi setiap ciptaan Allah. Bagi orang yang beriman dan berilmu, kejadian itu merupakan bukti kemahakuasaan Allah dan kefanaan kehidupan duniawi.
            Dalam memahami kehidupan dunia, manusia sering tergelincir kedalam pikiran yang materialistis. Kaum materialis-ateis beranggapan bahwa hidup setelah mati hanyalah lamunan orang-orang awam. Yang tidak menggunakan akalnya. Para sarjana itu berkeyakinan bahwa pada bumi dan alam semesta iniberlaku hukum the law of concervation of matter (materi ini kekal dalam perubahan kekal). Hidup ini menurut mereka, hanyalah proses berantai dari reaksi-reaksi kimia dan mekanisme alam belaka. Pendapat lain yang agak moderat dari pendapat sarjana ateis ini adalah kepercayaan tentang adanya “ reinkarnasi” (penjelmaan kembali). Tetapi pada prinsipnya kepercayaan terhadap reinkarnasi ini sama saja dengan kekalnya kehidupan duniawi sebagaimana keyakinan orang-orang ateis. Bila reinkarnasi benar-benar berlangsung, maka jumlah manusia akan tetap, yakni angka kelahiran sama dengan angka kematian. Padahal kenyataannya tidak demikian,; jumlah manusia terus berlipat, yakni berarti ruh manusia terus menerus diciptakan. Dengan demikian maka teori reinkarnasi tertolak.
            Islam mengajarkan kepada penganutnya bahwa kehidupan yang abadi adalah kehidupan setelah kehidupan dunia ini.
1.      Kiamat dan Hari Perhitungan
2.      Siksa Neraka
3.      Kenikmatan Surga

Iman Kepada Qada dan Qadar

            Qada menurut bahasa berarti hukum, perintah, memberikan, menghendaki, menjadikan. Sedang qadar berarti batasan, menetapkan ukuran.
Arti terminologis dikemukakan Ar-Raqib bahwa:
                “ Qadar ialah menemukan batas (ukuran) sebuah rancangan; seperti besr dan umur alam semesta, lamanya siang dan malam, anathomi dan fisicylogy nabati dan hewani, dan lain-lain; sedang qada ialah menetapkan rancangan tersebut.”
            Atau secara sederhana dapat di artikan bahwa qada adalah ketetapan Allah yang telah ditetapkan (tetapi tidak kita ketahui), sedang qadar ialah ketetapan Allah yang telah terbukti (diketahui sudah terjadi).
Rasulullah saw bersabda:

“iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Kemudian, dan qadarnya yang baikmaupun yang buruk. (Hadis riwayat Muslim)
Karena itu maka Ibnu Umar berkata : “ Demi Allah, yang diri Ibnu Umar berada ditangan-Nya, sekiranya seseorang yang mempunyai wmas sebesar Gunung Uhud, kemudian ia belanjakan dijalan Allah, Allah tidak akan menerimanya sehinngga irang itu beriman dengan qadarnya.”

            Dalam Alquran kita dapatkan dua kelompok ayat yang seolah-olah bertentangan. Satu kelompok menyatakan bahwa manusia itu pasif dan tidak perlu usaha (Al-Qamar, 54:49, Al-Hadiid, 57:22, Al-Kahfi, 18:17), sebaliknya ada pula kelompok ayat yang menunjukkan bahwa manusia itu kreatif dan wajib berikhtiar (Asy-Syuura, 42:30, Yunus, 10-127). Kedua kelompok ayat tersebut bila dikaji lenih lanjut ternyata mempunyai titik temu, yaitu bahwa Allah swt. Menjadikan alam semesta beserta isinya dilengkapi dengan undang-undang yang disebut sunatullah, yang tetap tidak berubah-ubah.
            Rasulullah saw. Melarang membicarakan masalah qada dan qadar.
            Umar Ibnu Khatab berkata:
“ Tiadalah aku peduh yang akan kuhadapi setiap hari, apakah yang menyenangkan, ataukah menyusahkan karena aku tidak mengetahui dimana letak kebaikan, apakah pada yang menyusahkan ataukah pada yang menyenangkan.”
            Rasulullah saw. Bersabda:
Telah berhuja Musa dengan Adam. Kata Musa : Engkau ayah kami, engkau telah menyia-nyiakan kami, engkau telah mengeluarkan kami dari surga. “jawab Adam: “Hai Musa! Engkau telah dipilih Allah telah membuat Taurat untukmu. Apakah engkau mencela aku karena satu pekerjaan yang Allah telah takdirkan atas diriku, sebelum aku dijadikan?” (Hadis riwayat Bukhari)
            Karena itu setiap muslim wajib meyakini bahwa Allah swt. Maha kuasa serta memiliki wewenang penuh untuk menurunkan ketentuan apa saja bagi makhluk-Nya. Demikian juga setiap muslim wajib meyakinisepenuhnya bahwa manusia diberi kebebasan memilih dan menentukan nasibnya sendiri dengan segala kemampuan usahanya serta doanya kepada Allah. Qada Allah telah berlaku, sejak manusia masih berada dalam rahim ibunya. Ia lahir didunia tanpa diberi hak untuk memilih siapa ayah ibunya, dan sebagai bangsa apa ia dilahirkan dan sebagainya. Dalam pengembangan dirinya ia telah diikat oleh ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh Allah bagi dirinya, sesuai dengan sunatullah dan syariah Allah.
            Jadi, ada dua faktor yang menyertai manusia, yaitu qada dan qadar Allah keberhasilan amal seseorang hanya mungkin bila yang diikhtiarkan cocok dengan qada dan qadar Allah.

Wujud Iman 

Syarat-syarat Perwujudan Adanya Iman


  Telah dibaiat oleh guru mursyid yang memiliki dan mengerti ilmu Tauhid. 
  Mengerti cara bertauhid / bermeditasi.
  Bertauhid / bermeditasi hadir kepada guru mursyid yang asli silsilahnya
  Bersih dari segala bentuk kemusyrikan
  bersih dari segala sifat yang madz mu’mah
  harus tahu dan mengerti macam-macam Dzikir*
*Dzikir dibagi tiga macam, yaitu :
  1. Dzikir Jahry (Lisan) seperti lafadz  (ﻵﺇﻠﻪﺍﻻﺍﷲLaa Ilaaha Illallooh
  2. Dzikir Sirri (didalam hati) seperti lafadz (ﺍﷲﺍﷲﺍﷲ ) Allah, Allah, Allah ….
  3. Dzikir Tauhid (di hati dan angan-angan) sambil bersikap seperti orang bermeditasi memusatkan segala pikiran hanya kepada Allah semata menuju ke atas, seolah-olah kita melihat-Nya.
                                                                                    
Wujud iman sangat baik untuk para salik mengerti bahwa sesungguhnya iman itu tidak hanya sekedar keyakinan di dalam hati belaka, apabila pengertian iman hanya sampai disitu maka kita akan menyesal selamanya. Sebab iman yang seperti itu baru sekedar lafadz  artinya lafadz hanya diucapkan di dalam hati, tetapi sebenarnya iman itu sendiri berwujud, wujud dari iman adalah sebuah pekerjaan di dalam hati dan angan-angan kita, seperti halnya bila kita menghendaki mewujudkan sesuatu benda atau mewujudkan suatu gambar, maka hati dan pikiran kita sepenuhnya tertuju pada benda atau gambar  tersebut sampai dengan benda atau gambar  tersebut selesai. Demikian juga dengan wujud dari iman, wujud dari iman adalah pekerjaan hati dan angan-angan kita hanya tertuju kepada Allah (bertauhid kepada Allah). Bila pekerjaan tersebut belum selesai maka hati dan angan-angan tidak berhenti bekerja mewujudkan benda atau gambar tersebut, demikian juga dengan iman sebelum kita bertemu dengan Allah dihari kiamat maka hati dan angan-angan kita tidak berhenti untuk beriman. Bila jasad kita telah mati maka ruh kita yang melanjutkan pekerjaan iman kita tersebut sampai dengan hari akhir (kiamat).Dari hal tersebut diatas dapat kita simpulkan bahwa sewaktu-waktu dikala kita sedang bekerja, sedang tidur bahkan sedang buang hajatpun hati dan angan-angan kita tetap hanya tertuju kepada Allah S.W.T. semata, karena beriman  yang seperti itu merupakan kunci dari semua urusan peribadahan yang kita lakukan terutama pada saat kita bersholat.
Pada umumnya bila kita bersholat Allahhu Akbar mulut kita menyebut asma Allah tapi angan-angan dan pikiran kita lari ke pasar, memikirkan hutang, memikirkan pekerjaan kantor dsbnya selain Allah, maka sebenarnya hal yang seperti itu disebut orang munafik, fasik, kafir hatinya. Dan hal tersebut yang sebenarnya disebut menyekutukan kepada Allah S.W.T. seperti dalam Firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah : 165 :

Artinya: Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah ….
Mereka juga mengucapkan
Tidak ada yang disembah selain Allah

Dan dalam Surat Al Fatihah :
hanya kepada-Mu (Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu (Allah) kami mohon pertolongan
tetapi ketika mengucapkan kata / ayat tersebut hati dan angan-angannya tidak tertuju kepada Allah S.W.T. Hal tersebut menandakan wajah hati dan wajah angan-angannya berpaling dari Allah dan orang-orang tersebut yang dinamakan iman islamnya hanya berupa lafadz (lisan) saja.
 Artinya : Mereka hendak menipu Allah,dan orang-orang yang beriman  (karena hanya menampakkan  pertentangan dalam hatinya  tentang kekufuran)
 
Artinya : Orang  yang hanya melahirkan/melafalkan kalimatnya iman  maka ketika mati dia ketakutan dan disiksa. Apa sebabnya ? sebab tidak memiliki wujud dari iman itu sendiri. Orang demikian itu sejatinya adalah orang kafir, munafik, musrik. Karena apa ? karena imannya hanya setengah-setengah.
  
Artinya : Kami beriman kapada yg sebagian dar kami kafir pada sebagian yang lain…(Qs. An-Nisa’ 150)
  
Artinya : Merekalah orang-orang yang kafir, sebenar-benarnya. (Qs. An-Nisa’ 151)
 
Artinya : Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini…(At Taubah : 28)
Maka bertauhidlah kepada Allah taa’la,karena bila tidak bertauhid, Allah akan menghapus semua ibadahmu. Walaupun dirinya ahli ibadah, ahli syi’ar, hafal Al-Qur’an, Kyai yang banyak santrinya, kitabnya sampai delapan lemari, tanpa kecuali, mati tanpa membawa wujud dari iman (bertauhid kepada Allah) neraka selama-lamanya.
Tetapi orang yang membawa wujud dari iman yaitu bertauhid kepada Allah, orang-orang itulah yang sangat dikasihi Allah ta’alla  
Artinya : ….Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah S.W.T. …..
Sebagai tanda/bukti kecintaannya pada Allah S.W.T. mereka selalu bertauhid yaitu hatinya melafalkan Allah, Allah, Allah memusatkan pikiran dan angan-angannya kepada Allah semata.Apa sebabnya? Sebab hanya Allah saja yang menjadi penolong
Artinya : Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah ? Maka Allah, Dialah pelindung yang sebenarnya (QS Asy Syuro’ : 9)
Artinya : Orang-orang dholim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong (QS Asy Syuro’ : 8)Mereka (orang-orang dholim) yaitu orang-orang yang tidak bertauhid tidak akan punya penolong kelak di hari kiamat nanti karena mereka kekasih hati mereka adalah selain Allah S.W.T..
TANDA – TANDA ORANG BERIMAN
Al-Qur’an menjelaskan tanda-tanda orang beriman sebagai berikut :
  1. Jika di sebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari syaraf memorinya, serta jika di bacakan ayat suci Al-Qur’an, maka bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya (al-Anfal:2).
  2. Senantiasa tawakal, yaitu kerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah, diiringi dengan doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah menurut 6.sunnah Rasul (Ali Imran: 120, al-Maidah: 12, al-Anfal: 2, at- Taubah: 52, Ibrahim: 11, Mujadalah: 10, dan at-Thaghabun: 13).
  3. Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu menjaga pelaksanaannya (al- Anfal: 3, dan al-Mu’minun: 2,7).
  4. Menafkahkan rezki yang diterimanya (al-Anfal: 3 dan al-Mu’minun: 4).
  5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan (al- Mu’minun: 3,5)
  6. Memelihara amanah dan menepati janji (al-Mu’minun: 6)
  7. Berjihad di jalan Allah dan suka menolong (al-Anfal: 74)
  8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin (an-Nur: 62)
CARA MEMPERBAHARUI IMAN
  1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran
  2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah
  3. Carilah ilmu syar’i
  4. Mengikutilah halaqah dzikir
  5. Perbanyaklah amal shalih
  6. Lakukan berbagai macam ibada
  7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah
  8. Banyak-banyaklah ingat mati
  9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat
  10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
  11. Berdzikirlah yang banyak
  12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Ny
  13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-mulu
  14. Memikirkan kehinaan duni
  15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Alla
  16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara
  17. Bersikap tawadh
  18. Perbanyak amalan hat
  19. Sering menghisab dir
  20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman

Pengaruh Iman Pada Kehidupan Manusia
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia.
a. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda
b. Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
c. Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan.
d. Iman memberikan ketentraman jiwa
e. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah)
f. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konseku
g. Iman memberikan keberuntungan
h. Iman mencegah penyakit.


TAKWA
PENGERTIAN
Kata takwa (التَّقْوَى) dalam etimologi bahasa Arab berasal dari kata kerja (وَقَى) yang memiliki pengertian menutupi, menjaga, berhati-hati dan berlindung. Oleh karena itu imam Al Ashfahani menyatakan: Takwa adalah menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti, kemudian rasa takut juga dinamakan takwa. Sehingga takwa dalam istilah syar’I adalah menjaga diri dari perbuatan dosa.
Taqwa memiliki beberapa pengertian tersendiri yaitu:
Merupakan konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh.
Taqwa ini juga mengandung arti bahwa “Hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangannya dan tidak kehilangan kamu didalam perintah-perintahnya. Mencegah diri dari azab Allah dengan berbuat amal shaleh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan.

BAB III
KESIMPULAN
Iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-Iimaanu ‘aqdun bil qalbi waiqraarun billisaani wa’amalun bil arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup atau gaya hidup. Sedangkan takwa adalah menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti, kemudian rasa takut juga dinamakan takwa. Sehingga takwa dalam istilah syar’I adalah menjaga diri dari perbuatan dosa.
Sebagai umat muslim dan hamba Allah swt, ada baiknya kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah swt dan meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat, baik yang kecil maupun yang besar. Mentaati dan mematuhi perintah Allah adalah kewajiban setiap muslim. Dan juga, seorang muslim yang bertakwa itu membersihkan dirinya dengan segala hal yang halal karena takut terperosok kepada hal yang haram


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar